PONTIANAK, KR – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas OSO Pontianak bersama Aliansi Reformasi Kalimantan Barat menggelar aksi massa di Bundaran Tugu Digulis, Kota Pontianak, Kamis (18/6/2026).
Aksi tersebut membawa sejumlah tuntutan terkait persoalan daerah dan nasional yang dinilai belum mendapat perhatian serius pemerintah. Mahasiswa menyoroti kondisi Kalimantan Barat, mulai dari persoalan pembangunan wilayah tertinggal, pemangkasan anggaran daerah, hingga dampak kebijakan nasional terhadap masyarakat.
Presiden Mahasiswa BEM Universitas OSO, Irvan Surya, mengatakan keterlibatan pihaknya dalam aksi tersebut merupakan bentuk keresahan mahasiswa terhadap kondisi masyarakat.
“Kalimantan Barat tidak baik-baik saja. Selama pemerintah tidak mendengar keresahan rakyat, mahasiswa tidak akan diam. Kami turun bukan untuk membuat keributan, tetapi menyampaikan suara masyarakat yang selama ini tidak didengar,” tegas Irvan.
Menurutnya, persoalan daerah tidak dapat dipisahkan dari dinamika nasional. Gelombang aksi mahasiswa di berbagai daerah menjadi gambaran adanya keresahan publik yang semakin luas.
“Apa yang terjadi di Kalimantan Barat tidak bisa dilepaskan dari kondisi nasional. Ketika banyak daerah bergerak, berarti ada persoalan yang harus diperhatikan pemerintah,” ujarnya.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa empat isu utama, yakni dampak kenaikan harga BBM non-subsidi terhadap harga kebutuhan masyarakat, pemangkasan Dana Bagi Hasil dan Dana Desa yang berdampak pada pembangunan wilayah 3T, evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta persoalan ketahanan ekonomi akibat pelemahan nilai tukar rupiah.
Koordinator Lapangan aksi, Habib Iqbal, menyebut mahasiswa melihat adanya kondisi negara yang membutuhkan perhatian serius.
“Kami melihat hari ini negara sedang menghadapi banyak persoalan, salah satunya dampak kebijakan yang langsung dirasakan masyarakat,” katanya.
Aksi ini merupakan hasil konsolidasi lintas kampus yang melibatkan sejumlah organisasi mahasiswa di Kalimantan Barat, termasuk BEM KBM Untan, DPM Untan, BEM UMP, BEM Polnep, BEM UPGRI, dan BEM UPB.
Irvan menegaskan, gerakan mahasiswa tidak berhenti pada aksi lapangan, tetapi akan terus mengawal isu-isu tersebut hingga mendapat respons dari pemerintah.
“Ini bukan mencari panggung. Kami ingin memastikan suara mahasiswa Kalimantan Barat tetap terdengar dan pemerintah mengambil langkah nyata,” pungkasnya.





